Sejak akhir tahun 2019 sampai saat ini, dunia sedang dilanda pandemi COVID -19. Virus corona penyebap penyakit COVID-19 (corona viruses disease) telah mengubah tatanan dan pola kehidupan seluruh warga dunia. Berdasarkan laman website kemenkes, diketahui bahwa kasus positif COVID-19 global per tanggal 8 September 2020 adalah 27.236.916 kasus dengan 891.031 kematian (CFR 3,3%) di 215 Negara Terjangkit dan 176 Negara Transmisi lokal. Sejak pertama dilaporkan adanya kasus COVID-19, kurva kasus pasien positif COVID-19 di Indonesia terus meningkat setiap harinya. COVID-19 sudah menyebar hingga berbagai wilayah di Indonesia. Melalui informasi dari laman website kemenkes menunjukkan bahwasanya kasus kumulatif COVID-19 di Indonesia terus meningkat dan belum menunjukkan adanya penurunan kurva positif COVID-19. Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan persebaran kasus positif COVID-19 yang sangat tinggi. Menurut laman website antaranews.com diberitakan bahwa kasus COVID-19 di Pasuruan sendiri telah mencapai 681 kasus per 7 agustus 2020.
Pandemi COVID-19 telah membawa dampak yang merugikan terhadap berbagai sektor kehidupan. Indonesia saat ini sedang mengalami krisis di berbagai sektor, termasuk pendidikan, ekonomi, kesehatan dan aspek kehidupan lainnya. Selama masa pandemi, banyak masyarakat Indonesia yang kehilangan pekerjaan. Selain itu masyarakat Indonesia juga tidak bisa melaksanakan kegiatan seperti bekerja dan belajar seperti hari-hari biasanya. Pelayanan kesehatan di Indonesia juga mengalami permasalahan karena para tenaga medis sudah cukup kewalahan dalam menangani banyaknya pasien COVID-19. Hal tersebut juga akan berdampak pada kurang efektifnya pelayanan kesehatan terhadap pasien yang tidak menderita COVID-19. Dengan banyaknya masalah baru yang ditimbulkan selama pandemi COVID-19, seluruh lapisan masyarakat harus bekerja sama dalam mengatasi penyebaran COVID-19.
Dengan kurva kasus positif di Indonesia yang terus meningkat, menunjukkan bahwa pengendalian COVID-19 di Indonesia masih belum cukup efektif. Berbagai kebijakan yang dibuat untuk menekan penyebaran COVID-19 oleh pemerintah seperti tidak menunjukkan hasil yang berarti. Pemberlakuan PSBB di awal pandemi juga tidak cukup berhasil menekan penyebaran COVID-19. Kegiatan seperti pembelajaran jarak jauh, work from home, pembatasan kegiatan yang melibatkan banyak orang, termasuk ibadah, rapat, perayaan hari besar dan lainnya belum cukup untuk menekan penyebaran COVID-19. Pemerintah dinilai
tidak cukup tegas dalam menangani penyebaran virus corona sejak awal kasus COVID-19 pertama ditemukan. Kebijakan pemerintah juga tidak cukup berjalan dengan optimal. Selain itu banyak sekali masyarakat yang masih cukup abai dalam menerapkan protokol kesehatan. Dengan beberapa kebijakan yang telah dibuat tetapi tidak cukup bisa menekan penyebaran COVID-19, seharusnya menjadi hal yang perlu kita koreksi bersama. Pemerintah maupun masyarakat masih belum dapat menyadari secara penuh kewajiban masing-masing dalam menangani pandemi COVID-19. Semua pihak baik pemerintah dan masyarakat harus saling menyadari bahwa masalah pandemi COVID-19 adalah masalah semua pihak. Dalam penyelasaian penyebaran COVID-19 semua pihak di berbagai lapisan kehidupan, di semua rentang usia, termasuk juga pemuda harus ikut mengambil sikap sesuai perannya masing- masing.
Pemuda dengan segala kemampuannya harus berani mengambil sikap yang inofatif untuk membantu memutus penyebaran COVID-19. Pemuda sebagai agent of change harus bisa memberikan perubahan ke arah positif di berbagai keadaan. Pemuda harus selalu siap untuk beradaptasi dengan sistem dan lingkungan yang baru dan selalu berubah. Dengan potensi, semangat dan kondisi tubuh maupun jiwa yang sangat bagus, pemuda seharusnya menjadi bagian yang paling tinggi semangat perjuangannya dalam menangani pandemi COVID-19.
Pemuda bisa mengambil sikap dalam menangani pandemi COVID-19 sesuai dengan perannya masing-masing. Semua pemuda dengan profesinya masing-masing baik itu sebagai mahasiswa, influencer, youtuber, anggota band dan lain sebagainya, bisa bersama-sama mengambil peran untuk menangani pandemi COVID-19. Tidak hanya berdasarkan perannya, kegiatan penanganan COVID-19 bisa dilakukan oleh siapa saja sesuai bakat yang dimiliki oleh masing-masing pemuda.
Di masa pandemi seperti ini seharusnya bukan menjadi alasan bagi pemuda untuk berhenti mengembangkan potensi diri dan berprestasi. Para pemuda seharusnya lebih banyak memanfaatkan waktu yang ada untuk lebih megenal diri sendiri. Dengan work from home para pemuda tetap bisa mengembangkan diri dan menyumbangkan karya terbaik untuk Indonesia sesuai peran dan bakatnya masing-masing. Pemuda di masyarakat harus bisa menjadi contoh yang baik dalam segala hal, termasuk dalam menyikapi pandemi COVID-19. Pemuda harus memberikan kontribusi nyata bagi Indonesia yang lebih baik.
Aulia Anggun
UNIVERSITAS AIRLANGGA
Komentar
Posting Komentar